Semangat Proklamasi Wujudkan Rakyat Sehat Mandiri
PESAN menumbuhkan dan mengingatkan makna semangat jiwa nasionalisme, banyak terpasang di sudut-sudut perkantoran, sejak bulan Agustus ini. Menjelang peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan, pesan moral itu menjadi momen penting, sembari menyisipkan informasi pokok lainnya terkait promosi dan program pembangunan kesehatan.
SEPERTI sederetan pesan khusus terpampang dalam spanduk di kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sultra. “Dengan semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Wujudkan Rakyat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan melalui Program Bahteramas.”
- Semangat Proklamasi, mengingatkan arti pentingnya perjuangan tanpa kenal lelah dalam setiap perjuangan bangsa
- Upaya Mewujudkan rakyat sehat dan mandiri, merupakan tanggung jawab bersama melalui semangat kerjasama yang baik.
- Program Bahteramas, adalah visi, misi khusus pemerintah Provinsi Sultra, dalam membangun kesejahteraan masyarakat.
Dengan pesan-pesan itu, semoga segenap lapisan masyarakat, tergerak untuk melaksanakan kemandirian dalam meningkatkan derajat kesehatannya secara bersama-sama. DIRGAHAYU Hari Ulang Tahun Proklamasi Republik Indonesia.

Merdeka, merdeka, merdeka !!! Dirgahayu HUT RI ke – 65, mari kita isi dan pertahankan Kemerdekaan ini mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan dengan berbuat yang terbaik bagi Bangsa dan Negara tercinta Indonesia..
@budiarnaya: Iya Bli, kita harus berbuat optimal yang terbaik bagi bangsa dan negeri tercinta ini.
SAYA agak terkejut, ketika seorang saksi sejarah mengatakan bahwa Proklamasi Kemerdekaan terselenggara di Rengasdengklok 16 Agustus 1945 dan oleh karena itu peringatan Hari Kemerdekaan adalah yang di Rengasdengklok dan bukannya pada 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56 Jakarta.
Sekilas, saya menyukai adanya perbedaan karena perbedaan itu adalah rahmat.Tetapi selama masih belum bisa membuktikan secara otentik, maka kita sepakat untuk memilih 17 Agustus 1945 sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Memang sulit untuk membuktikan apakah sumber-sumber itu otentik atau tidak, karena para pelaku sejarah sudah banyak yang tua-tua, daya ingat mereka sudah turun, bahkan ada yang sudah meninggal dunia.
Sumber terakhir itu juga mengatakan, Soekarno dan Hatta membacakan proklamsi yang ditulisnya dan menaikkan bendera sang saka merah putih di Rengasdengklok. Ditegaskan, Soekarno setuju saja dengan argumen para pemuda yang mengamankannya ke Rengasdengklok.
Hal ini bertolakbelakang dari buku yang saya tulis: Dasman Djamaluddin,Butir-butir Padi B.M.Diah (Jakarta:Pustaka Merdeka, 1992), halaman 75-76, sejak semula Bung Karno marah dan memegang batang lehernya serta membuat gerakan seakan-akan menggorok leher. Dengan demikian, ia hendak menunjukkan bahwa ia tidak setuju meskipun disembelih sekali pun.”Biar pun saya digorok, saya tidak akan melakukan Proklamasi,” ujar Bung Karno. Selanjutnya diungkapkan bahwa Bung Hatta setuju dengan sikap Bung Karno.
Perlu diketahui B.M.Diah yang bukunya saya tulis adalah juga saksi sejarah. Beliau adalah salah seorang saksi sejarah, satu-satunya seorang wartawan yang hadir ketika Bung Karno-Hatta merumuskan proklamasi pada tanggal 16 Agustus 1945 malam di Rumah Maeda (sekarang menjadi Museum Naskah Perumusan Naskah Proklamasi) di jalan Imam Bonjol no.1 Jakarta. Beliau pula yang menyaksikan, Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi setelah ditulis Bung Karno. B.M.Diah berdiri tepat di belakang Sayuti Melik yang sedang mengetik.
Jadi untuk sementara saya mengatakan, bahwa rumusan naskah proklamasi itu baru diperbincangkan tanggal 16 Agustus 1945 malam di rumah Maeda, bukannya di Rengasdengklok.Kalau sudah diproklamsikan di Rengasdengklok, mengapa Bung Karno dua kali membacakan Proklamasi. Kalau benar (sekali lagi benar), bukankah di dalam hukum berlaku hal-hal yang baru menafikan hal-hal yang lama ? Jadi yang dipergunakan adalah yang baru? Semoga menjadi bahan masukan. Terimakasih (http://dasmandj.blogspot.com)