2 PRINSIP DASAR PENATALAKSANAAN KASUS TERSANGKA DBD
JIKA TELAH DILAKUKAN penegakan diagnosis kasus dugaan DBD berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, maka secepat mungkin dilakukan penatalaksanaannya. Untuk dapat merawat pasien DBD dengan baik diperlukan dokter dan perawat yang terampil, sarana laboratorium yang memadai, cairan kristaloid dan koloid, serta bank darah yang senantiasa siap bila diperlukan. Pada dasarnya penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue (DBD) bersifat tindakan simtomatis dan suportif.
1. PENANGANAN SIMTOMATIS : mengatasi keadaan sesuai keluhan dan gejala klinis pasien.
Pada fase demam pasien dianjurkan untuk :
- Tirah baring, selama masih demam
- Minum obat antipiretika (penurun demam) atau kompres hangat apabila diperlukan
- Diberikan cairan dan elektrolit per oral, jus buah, sirop, susu, disamping air putih, dianjurkan paling sedikit diberikan selama 2 (dua) hari.
2. PENGOBATAN SUPORTIF : mengatasi kehilangan cairan plasma dan kekurangan cairan
Pada saat suhu turun bisa saja merupakan tanda penyembuhan, namun semua pasien harus diobservasi terhadap komplikasi yang dapat terjadi selama 2 hari, setelah suhu turun. Karena pada kasus DBD bisa jadi hal ini merupakan tanda awal kegagalan sirkulasi (syok), sehingga tetap perlu dimonitor suhu badan, jumlah trombosit dan kadar hematokrit, selama perawatan. Penggantian volume plasma yang hilang, harus diberikan dengan bijaksana, apabila terus muntah, demam tinggi, kondisi dehidrasi dan curiga terjadi syok (presyok). Jumlah cairan yang diberikan tergantung dari derajat dehidrasi dan kehilangan elektrolit, dianjurkan cairan glukosa 5% didalam larutan NaCL 0,45%. Jenis cairan sesuai rekomendasi WHO, yakni: larutan Ringer Laktat (RL), ringer asetat (RA), garam faali (GF), (golongan Kristaloid), dekstran 40, plasma, albumin (golongan Koloid).
DIAGNOSIS DINI dan memberikan nasihat untuk segera dirawat bila terdapat tanda syok, merupakan hal penting untuk mengurangi angka kematian akibat DBD. Karena perjalanan penyakit DBD sulit diramalkan, maka kunci keberhasilan tatalaksana DBD terletak pada deteksi dini kasus, ketrampilan para dokter dan paramedis untuk dapat mengatasi masa peralihan dari fase demam ke fase penurunan suhu (fase kritis, fase syok) dengan baik.
(Sumber: dirangkum dari buku Tatalaksana DBD di Indonesia, Depkes RI, Dirjen P2MPL, 2004, hal. 25-29)
